Minggu, 18 November 2012

Seperti Dalam Kisah Sinetron


Tumino memandangi gudang yang didatanginya. Pikirannya sedikit berimajinasi mengenai gambaran pekerjaan yang nantinya akan dilakoninya. Mungkin sebaiknya tidak membayangkan yang enak-enak dulu, katanya dalam hati.

Beberapa orang yang berlalu lalang di hadapannya, tampak sekilas memandang ke arahnya. Salah seorang dari mereka menegurnya.

"Cari siapa, mas?" tanya orang itu.

Tumino menoleh ke arah suara tersebut. Ia mendekati orang itu, mengembangkan sebuah senyuman lalu menjawab pertanyaannya.


"Saya mau ketemu pak Catur," jawab Tumino sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Oh, ada mas. Silakan masuk ke ruangan di sana itu. Sudah tahu orangnya kan?"

"Sudah," jawab Tumino. Setelah mengucapkan terima kasih, iapun bergegas menuju ruangan yang ditunjuk orang tadi.

Benar, di ruangan itu ia mendapati orang yang dicarinya. Perkenalannya dengan Pak Catur dapat dikatakan sebuah kebetulan atau mungkin sebuah takdir. Tiga hari yang lalu ia masih seorang penjual kanebo di perempatan jalan, saat dilihatnya seorang gadis yang terserempet sepeda motor saat turun dari bus kota. Tubuhnya terbanting ke aspal dan pingsan. Tumino yang kebetulan berada dekat situ dengan sigap menyetop taksi dan membawa gadis tersebut ke rumah sakit terdekat. Dari smartphone yang dipegang gadis tersebut, dia melihat rekaman riwayat telepon keluar dengan identifikasi nomor dengan nama "papa". Lalu diberanikannya untuk menekan tombol "panggil", sambil berharap masih ada pulsa di telepon genggam tersebut, dan dia beruntung kali ini karena nadanya menunjukkan nada panggil. Beberapa saat menunggu kemudian terdengar suara jawaban dari nada panggil tadi.

"Ya, sayang... ada apa?" Terdengar suara seorang pria, Tumino sedikit gugup.

"Ma..maaf, pak. Apa benar ini nomor anak bapak?"

"Benar. Lho, anda siapa?"

"Anak bapak mengalami kecelakaan, saya sedang membawanya ke rumah sakit," Tumino menjelaskan nama dan tempat rumah sakit yang hendak dituju.

"Baik saya segera kesana. Terima kasih."

Setelah mematikan telepon genggam gadis itu, Tumino seperti menyadari sesuatu. Posisi tidur gadis itu di bangku belakang taksi belum benar iapun memperbaikinya, ia sendiri hanya duduk sebisanya, sedangkan barang dagangannya ia lemparkan begitu saja di kursi depan sebelah supir. Dan kali ini ia menghela napas karena menyadari uangnya hanya beberapa puluh ribu yang tak mungkin cukup untuk membayar taksi tersebut. Diperhatikannya identitas pengemudi di dashboard depan. Sebentar ia berusaha memikirkan sesuatu lalu ia bertanya kepada supir taksi tersebut.

"Maaf, Pak Eko," katanya membuka pembicaraan.

"Eh, saya pak, ada apa ya?" Supir taksi yang dipanggil pak Eko tadi menyahut.

"Saya mau minta tolong," Tumino sempat memandangi argometer taksi tersebut beberapa saat dan ia merasa ada yang aneh.

"Tolong apa ya, pak?" tanya si supir taksi bernama Eko itu.

"Nanti kalau sampai rumah sakit tunggu dulu ya, pak. Saya mau membawa gadis ini ke dalam dulu."

"Oh, baik pak, nanti saya bantu kok membawa ke dalamnya."

Tumino sedikit bersyukur, agaknya supir taksi ini orang baik. Tapi sulit menduga hati orang di kota sebesar Jakarta ini. Banyak orang yang terlihat baik ternyata tak sebaik penampilannya. Ia berharap supir ini tidak mempersulitnya nanti, dan ia juga berharap orang tua gadis ini juga tidak menuduhnya macam-macam.

Beberapa jam kemudian Tumino masih duduk termangu di halaman rumah sakit, semua yang diharapkannya tadi terkabul semuanya, malah lebih dari yang ia duga. Semua berjalan lancar. Gadis itu langsung mendapat perawatan, si supir taksi tidak mau dibayar dan si ayah gadispun berulangkali mengucapkan terima kasih padanya sambil memberikan kartu nama. Ada kejadian unik beberapa waktu yang lalu yang membuatnya berpikir dan menduga-duga. Beberapa saat setelah ayah si gadis keluar dari ruang perawatan ia sempat memperhatikan supir taksi itu menghampiri dan seperti mengatakan sesuatu. Ia juga melihat ayah si gadis mengeluarkan dompet beserta uang namun tampak si supir taksi menolaknya. Lalu supir taksi tersebut berlalu dan ketika lewat di hadapannya sempat menyalaminya.

Kali ini Tumino mengucap syukur berulang-ulang. Memang kalau Tuhan berkehendak manusia tak akan dapat menduga dan menolaknya. Sekali lagi ia bersyukur, karena ternyata masih banyak orang baik di kota ini. Ayah si gadis tadi mengajaknya berbincang sebentar, menanyakan nama, pekerjaan lalu menawarinya sejumlah uang tapi Tumino menolaknya, ia mohon diri untuk kembali berjualan. Ayah si gadis sedikit terkejut, mungkin ia sama terkesimanya seperti Tumino, masih ada sikap-sikap mulia seperti ini di kota sekotor Jakarta.

Tumino memperhatikan kartu nama yang diberikan tadi, tertera nama Andri Irawan ada tulisan direktur di bawah nama. Dia berpikir sebentar kemudian tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dalam hatinya berkata, "Anak direktur kok naik angkutan umum, ada-ada aja. Kalau udah kecelakaan begini biasanya baru nyesel, hihihi..." Ia tertawa dalam hati.

Belum jauh Tumino melangkah seseorang memanggilnya.

"Mas Tumino!" Tampak laki-laki bertubuh gempal dengan kepala sedikit botak sedang berlari-lari ke arahnya. Dan Tuminopun menghentikan langkahnya.

"Kenalkan mas, nama saya Catur. Saya asistennya pak Andri. Beliau minta saya menanyakan nomor hape mas Tumino, ada mas?" tanya laki-laki bernama Catur itu sambil diselingi suara napas yang tersengal-sengal.

"Ada dong, pak. Tapi buat apa? Oh ya kalo butuh kanebo satu kontainer nanti kontak saya ya, pak. Ini nomor hape saya." Tuminopun menyerocos sekenanya, dia sendiri heran buat apa minta-minta nomor hape segala.

Tumino memandangi ruang kerja itu sebentar, ia memperhatikan pak Catur yang masih sibuk menulis sesuatu. Kemarin sore pak catur tiba-tiba menelepon menawarinya pekerjaan dan memintanya untuk datang siang ini, katanya, lagi-lagi, atas suruhan Pak Andri, atasannya, ayah si gadis yang ditolongnya tiga hari yang lalu. Benar-benar mirip cerita sinetron, batinnya.

"Selamat siang, pak Catur."

Pak Catur menengadahkan wajahnya, "Eh, mas Tumino. Mari masuk dulu, silakan duduk di situ, saya akan menyelesaikan beberapa memo jalan dulu biar dibawa sama supir-supir di depan itu."

Tumino menganggukkan kepala dan sambil membungkukkan sedikit badannya berjalan menuju kursi yang dimaksud. Tampak pak Catur berdiri mengumpulkan lembaran-lembaran kertas yang tergeletak di mejanya lalu membawanya keluar. Beberapa menit kemudian ia masuk, menyalami Tumino lalu duduk dan memulai percakapan.

"Asalnya dari mana, mas Tumino?" Sebuah pertanyaan standar, pikir Tumino.

"Dari Wonosari, pak."

"Wonosari, Gunung Kidul?"

Tumino mengangguk.

"Itu staf saya juga ada yang dari sana, jangan-jangan sampiyan kenal. Namanya Eko."

Tumino tertawa dalam hati, nama yang pasaran, supir taksi yang tempo hari membantunya ke rumah sakit juga bernama Eko. Mungkin ada jutaan orang bernama Eko di Jawa, sama halnya dengan nama Joko, cuma bedanya orang yang bernama Eko gak ada yang ngetop banget seperti orang yang bernama Joko.

"Kalau Pak Catur asli mana?" Tumino ganti bertanya.

"Saya dari sini, lahir Jakarta, besar Jakarta, tapi orang tua dari Cilacap. Eh, sebentar, saya ambilkan minum, mau minum apa?"

"Apa saja pak."

"Ok, sebentar." Pak Catur lalu berdiri dan tiba-tiba saja berteriak memanggil seseorah, "Bleh!... Ableh!"

Tidak ada yang datang iapun menengok ke luar ruangan lalu meneriakkan nama lain, "San! Santi!... Ableh kemana ya?"

Tampak terdengar suara dari salah satu ruangan, "Tadi sedang beli makan, pak! Sebentar saya cari."

Tumino memperhatikan ruangan kerja ini yang tembok pembatasnya terbuat dari triplek, dan dia sempat mengintip keluar ada beberapa sekat ruangan yang sama terbuat dari triplek. Dari fisiknya sih sederhana, tapi melihat jumlah pegawainya, Tumino berusaha mengira-ngira sebesar apa perusahaan ini.

"Pernah kerja dimana?" Tanya Pak Catur kemudian.

"Lho sekarang juga kerja pak, jualan kanebo kan pekerjaan juga."

"Hehe iya..ya.. maksud saya pernah jadi karyawan gak?"

"Gak pernah, pak. Tapi 2 bulan lalu saya sempat memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan, tapi belum ada panggilan."

"Latar belakang pendidikan?"

"Akademi Teknik, pak." Ada sedikit rasa bangga dalam diri Tumino ketika mengucapkan latar belakang pendidikannya, setidaknya dia bisa menghargai dirinya dan meletakkannya pada tatanan sosial yang lebih baik dalam pergaulan, di mana dengan titel seorang ahli madya akan membuat pola pikir dan cara berbicaranya berbeda dengan orang-orang di lingkungannya saat ini.

"Lho, kok milih jualan di perempatan?"

"Hanya iseng pak, sambil saya belajar dagang dan melihat-lihat peluang. Sekalian mengumpulkan modal buat buka bengkel."

"Hahaha ada-ada saja mas Tumino ini. Mana bisa ngumpulin hasil jual kanebo buat buka usaha. Jaman sekarang ini kalau mau buka usaha harus nyari modal lewat pinjaman. Kalau mengumpulkan sedikit-sedikit ya gak bakalan kekumpul, jualan kanebo kan gak seberapa, belum yang disetorkan, belum buat makan, belum kalo ada apa-apa, sakit atau kecelakaan misalnya."

"Iya juga sih, pak. Makanya saya jualan itu proses belajar. Belajar dari retail dulu, setelah jalur distribusinya saya kuasai saya akan coba jadi distributor. Siapa tahu dapat jalan dari situ." Tumino mencoba menjelaskan imajinasinya.

"Mau kerja di sini?" tanya Pak Catur.

"Bagian apa ya pak?"

"Mas Tumino punya keahlian apa, dulu Kuliah Tekniknya apa?"

"Elektro pak."

"Wah, bagus itu bisa memperbaiki macam-macam dong, servis komputer juga bisa ya?"

Tumino menghela nafas. Kenapa orang-orang selalu berpikir bahwa mereka yang menekuni dunia elektronika pasti bakal jadi tukang servis. Tapi dia maklum, apalagi ya memang itu keahliannya, memperbaiki macam-macam barang elektronik. Apalagi ia berencana membuka bengkel servis barang elektronik bila mempunyai modal.

"Saya bisa memaintenance komputer pak, termasuk software dan hardware."

"Wah kebetulan, selama ini kami masih pakai jasa kalau ada masalah IT. Berarti itu nanti jadi bagian mas Tumino."

"Oh, bisa...bisa, pak." Tumino bersyukur, agaknya dia diterima bekerja di tempat tersebut.

"Berapa gaji yang mas Tumino minta?"

Tumino sedikit terkejut ditanya demikian, "Saya ikut standar di perusahaan ini saja, pak."

"Tidak apa-apa, mas. Anda sebutkan saja supaya dapat menjadi bahan pertimbangan bagian HRD perusahaan ini. Mas Tumino sudah berkeluarga?"

"Belum, pak."

"Ya sudah, sebutkan saja jumlahnya yang menurut mas Tumino sesuai dengan kebutuhan."

Sedikit ragu-ragu Tumino menyebutkan sejumlah nilai.

"Cukup segitu?" tanya pak Catur.

"Saya kira cukup, pak. Lagipula saya kan belum berpengalaman."

"Baiklah, besok siang mas Tumino kemari lagi dan bertemu dengan bagian HRD untuk membicarakan beberapa persyaratan dan administrasi bawa juga surat lamaran dan Riwayat Hidup. Sekarang kalau mas Tumino mau langsung pulang silakan, tapi kalau mau lihat-lihat dulu juga silakan, maaf, saya mau meneruskan pekerjaan lagi."

"Terima kasih, pak. Saya akan langsung pulang saja. Terima kasih sudah diberi kesempatan. Dan saya titip ucapan terima kasih buat Pak Andri. Mudah-mudahan anaknya segera sembuh."

"Oh ya, nanti saya sampaikan. Putri beliau sudah pulang hanya luka benturan ringan jadi hanya semalam di rumah sakit, beditu sadar langsung dibawa pulang besok siangnya."

"Sukurlah, pak. Baik saya permisi dulu, pak Catur." Tumino menjabat tangan pak Catur lalu bergegas meninggalkan ruangan tersebut.

Dalam perjalanan pulang dia tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan atas keajaiban yang dialaminya dalam beberapa hari ini. Dan tak henti-hentinya dia berkata-kata terus dalam hati, "Benar-benar mirip cerita sinetron."






2 komentar:

  1. Nyentuh juga !!. tapi kayanya waktu nulis sedang di kejar2 Belanda yaa! . klo saja nggak di- buru2 , pasti deh akan lebih dramatis n romantis juga ..... hee heeee . tq frits

    BalasHapus